Sunday, October 23, 2016

Ready for a Cashless Community

Hi, happy Sunday! Jaman sekarang siapa yang nggak tiap hari mantengin layar smartphone untuk buka social media dan portal site (termasuk blog ini) hehehe. Gapapa aku juga gitu kok. Itu tandanya kamu anak kekinian :p. Ternyata, bukan cuma media digital aja, lho yang makin marak belakangan ini. Sadar nggak sadar, era sekarang kita memang segala sesuatu udah serba digital. Bahkan uang pun udah digital alias cashless. Bayar bis pakai kartu, naik ojek bayar pakai transfer kredit, belanja pakai debit atau tranfer antar rekening, iya nggak?


Sekedar info, bank di Indonesia memang sedang menggencarkan fasilitas non tunai mereka, lho. Termasuk bank yang aku pakai, yaitu Bank BCA. Udah tau belum kalau tahun 2014 lalu, Bank Indonesia membuat Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)? Jadi, kedepannya diharapkan masyarakat mengurangi jumlah transaksi dengan uang tunai atau istilah kerennya itu adalah "Less Cash Society". Keuntungannya? Karena uang elektronik nggak mudah dipindahtangan, sehingga meminimalisir kerugian akibat pencurian, kerugian akibat masalah uang palsu juga menurun dan penghematan anggaran cetak & penerbitan uang untuk pemerintah. Banyak kan keuntungannya? :)

Aku sendiri excited dan welcome banget sama keputusan ini karena selain keuntungan yang udah disebutkan di atas, sekarang aku bisa pakai sling bag yang kekinian itu karena nggak perlu lagi bawa dompet 2 (dompet kertas, kartu dan dompet koin). Yay!!!

Eh tapi, di Indonesia kan masih serba tradisional, ya.. susah nggak sih untuk mulai cashless gitu? Hmm, sebenarnya nggak susah sih, walaupun belum banyak, tapi banyak penjual yang sudah menyediakan pembayaran secara eletronik seperti bus APTB sekarang juga udah non-tunal, terus kalau acara bazaar-bazaar gitu juga biasanya udah punya mesin pembayaran secara non-tunai.

Beberapa tips aku seputar pembayaran non tunai:
- Cashless bukan berarti nggak bawa cash sama sekali. Tetap siapkan beberapa uang kecil untuk kebutuhan mendadak, yah.
- Pisahkan dompet kartu terutama untuk pembayaran sarana transportasi agar mudah dijangkau.
- Simpan semua struk pembelanjaan dengan rapi, ini berguna untuk penghitungan pengeluaran kamu di akhir bulan.
- Sering-sering cek promo yang sedang berlangsung untuk transaksi non-tunai. Lumayan tambah hemat.
- Pilih bank yang sudah diterima di banyak toko/merchant.

Nah, untuk point terakhir, jika bilang cashless, pastinya cukup banyak bergantung sama fasilitas perbankan, dong ya.. Harus pintar-pintar cari yang sesuai dengan kebutuhan kita. Alhamdulillah Bank BCA yang aku pakai ini bisa dibilang sangat mendukung Gerakan Nasional Non Tunai. Selain kartu debitnya bisa dipakai di banyak tempat, BCA juga mengeluarkan banyak fasilitas non tunai antara lain: DUITT, KlikBCA, mBCA, kartu Flazz, atau yang paling terbaru itu adalah SAKUKU!

Beberapa fitur 'cashless' Bank BCA yang paling sering aku gunakan:

1. Pay with a click!
Fasilitas non tunai Bank BCA sendiri yang paling sering aku pakai adalah KlikBCA yaitu fasilitas internet banking. Jujur aja semenjak punya KeyBCA, aku jadi jarang banget ke ATM. KeyBCA ini memudahkan hidupku banget!! (Yang belum punya internet banking, you must try to have one! :D) Untuk transportasi sendiri aku sehari-hari pakai fasilitas pembayaran non tunai ojek online jadi tiap awal bulan tinggal transfer sesuai kebutuhan. Bayar tagihan juga tinggal transfer. Pokoknya semua serba transfer, deh. Hehe. Senangnya pakai fasilitas transfer di Bank BCA adalah minimal transfer antar Bank BCA cuma Rp10.000. Iyaaaa cuma sepuluh ribu rupiah aja. Dan aku punya pengalaman super random yang beneran kejadian dan untungnya tertolong dengan fasilitas minimal transfer Rp10.000 ini.

Sedikit cerita, waktu itu aku belanja baju online, aku udah deal dan udah dikasih totalan harga yang harus dibayar tapi baru sempat melakukan transfer beberapa jam kemudian. Setelah transfer aku kabari seller-nya, dan tetiba seller-nya bilang kalau salah satu baju yang aku pesan sudah sold out! Artinya aku harus ganti dengan baju lain dengan harga yang sama atau dengan baju lain dengan harga yang lebih tinggi dan transfer kekurangannya. Waktu itu aku coba cari baju dengan harga yang sama tapi susah banget! Ini beneran kejadian dan memang absurd banget dan jujur aku agak kesel. Akhirnya ada satu baju yang aku suka tapi beda harga sekitar belasan ribu. But thanks God di BCA minimal transfernya Rp10.000 jadi aku bisa langsung transfer kekurangannya dan perkara selesai. Bantu banget!



2. Cukup bawa kartu, semua terbantu.
Sekarang kan lagi tren pakai sling bag yang unyu-unyu kecil gitu, ya. Aku juga nggak mau ketinggalan dong, tapi karena aku orangnya rempong biasanya aku bawa tas besar dengan dompet yang besar juga. Nah, asiknya "Less Cash Society" ini, karena semua serba digital, aku cukup bawa kartu-kartu aja. Nggak ada lagi masalah bawa dua dompet kertas dan dompet koin. Aku juga pernah sharing pengalamanku pakai tas kecil lho di Instagram:

Yay udah hari Sabtu lagi aja. ✨✨ Biasanya kalau jalan-jalan pas weekend aku lebih suka bawa tas kecil dengan isi yang lebih ringkas. Yang penting sih ada: ✅ Kartu ATM buat belanja pake debit, ambil uang tunai atau yang lebih urgent: isi pulsa! ✅ KTP untuk urusan esensial 😁 ✅ Uang tunai untuk bayar angkot hehe. Dan uangnya bener-bener digelar gitu aja di tas tanpa dompet biar makin hemat tempat ✅ Token sebenernya optional, kadang aku bawa untuk transaksi kalau lagi enggak ada ATM ✅ Handphone karena aku tak bisa hidup tanpanya ✅ Makeup jikalau ada yang butuh di touch up 💋 Udah segitu aja. Kadang suka bawa tas besar dengan isi banyak sih (seperti payung, parfum, tissue dll), cuma aku inget pengalamannya kak Diana Rikasari yang awalnya juga nggak biasa pakai tas kecil karena selalu bawa banyak barang. Tapi ternyata kalau dibiasain, bawa barang sedikit dan yang penting-penting seperti kartu ATM aja tuh udah cukup banget. Baiknya juga tas kecil gini lebih ramah sama pundak. Kamu punya pemikiran yang sama? Share juga yuk isi tas kamu. @GoodLifeBCA @bblog_id #InovasiBCA #Apaisitasku
A photo posted by Dilla (@dillafdiah) on


Aku cuma butuh bawa KTP, Kartu Flazz, Paspor BCA, KeyBCA dan sedikit uang aja kalau tetiba butuh naik angkot.

Selain itu salah satu rutinitas 'cashless' aku yang selalu dilakukan setiap bulan salah satunya juga adalah belanja bulanan. Tau sendiri kan kalau belanja bulanan itu barang yang dibeli banyak, uang yang dibutuhkan juga cukup banyak. Dengan memakai kartu Paspor BCA sebagai debit, proses pembayaran juga jadi lebih aman karena aku nggak perlu bawa uang tunai banyak-banyak. Kalau lagi travelling juga bisa belanja cashless dengan kartu kredit BCA seperti pengalamannya ka Dinda di sini.

3. Tarik Tunai dengan Smartphone.
Ini masih baru banget dan aku masih coba-coba sih, tapi semenjak baca artikel tentang fitur SAKUKU di blog temanku di sini, kelihatannya kok menarik banget. SAKUKU ini bisa jadi pengganti kartu Flazz atau kartu debit dan memang itu fitur utama yang aku pakai banget. Karena aku orangnya pelupa apalagi kalau abis ganti-ganti tas, aku tetap bisa tarik tunai ataupun belanja di merchant yang terdaftar telah bekerja sama dengan fitur SAKUKU walaupun nggak bawa Paspor BCA ataupun kartu Flazz. Yang penting punya nomor telepon dan aktifkan SAKUKU Plus di cabang BCA terdekat. Mudah banget.



Now I am ready to join the cashless community! Semenjak lebih sedikit menggunakan uang tunai, sekarang aku jadi jarang 'jajan-jajan' kecil yang nggak terlalu penting, nggak perlu bulak-balik bank tukar uang receh dan suka dapat diskon juga dari poin transaksi ataupun discount langsung untuk transaksi non-tunai. Menguntungkan banget.

Kamu ada pengalaman menarik juga dengan fitur-fitur bank BCA? Yuk ikutan My BCA Experience Blog Competition karena ada hadiah menarik yang bisa kita menangin. Info klik banner di bawah ini, ya. Good luck for us!

Sunday, October 2, 2016

Review Erhair Scalp Care Shampoo Untuk Masalah Dermatitis Seboroik

Akhirnyaa aku berhasil menghabiskan shampoo Innisfree yang aku review di sini. Karena ukurannya cukup besar, 300 ml, jadi agak lama untuk menghabiskan secara tuntas hingga tetes terakhir. Tapi sebelum shampoo Innisfre habis, aku udah cari-cari review shampoo lain nih, dan dalam wishlist ku ada Erhair Scalp Care Shampoo dan Sebamed Shampoo karena nggak sengaja lihat review mba Ike Yurissa di Instagram. Selain itu aku juga sempet ngincer The Bath Box shampoo karena bahannya natural. But anyway, hari ini aku mau buat review Erhair Scalp Care Shampoo dulu yaaah.


DESCRIPTION
erhair
Scalp Care Shampoo
Size: 100 ml
Price: 50.000 rupiah

Erhair Scalp Care Shampoo ini adalah produk dari klinik Erha. Si shampoo ini masuk golongan produk yang dijual bebas alias nggak perlu resep dari dokter klinik Erha kalau mau beli shampoo ini. Walaupun begitu, semua rangkaian Erhair shampoo ini menurutku masih tergolong "produk klinik" karena targetnya memang untuk rambut yang bermasalah seperti gatal, ketombe, rambut rontok, atau rambut yang sudah mature. Jadi kalau rambutnya nggak ada masalah yang parah menurutku pakai shampoo yang tersedia di supermarket sudah cukup.


Karena aku sendiri punya masalah rambut yaitu rambut berminyak, gatal, berketombe dan rontok, dan sudah lelah mencoba beragam jenis shampoo yang tersedia di supermarket, akhirnya aku memutuskan untuk coba shampoo Erhair ini. Sebenarnya aku juga ingin coba shampoo dari Sebamed karena sama-sama shampoo rekomendasi dokter, tapi karena Erhair ini harganya sedikit lebih murah dan berkat iklan Erha Clinic yang super besar dan terpampang nyata di Kota Kasablanka (yang 'terpaksa' aku lihat setiap pulang kerja), akhirnya aku pilih shampoo Erhair ini ketimbang shampoo dari Sebamed. Selain itu, temanku juga ada cerita kalau dia sempat mengalami problem ketombe yang lumayan mengganggu, akhirnya dia memeriksakan masalahnya ke Erha Clinic dan masalahnya teratasi. Aku pikir mungkin aja masalahku sama kayak dia dan cocok juga pakai produknya Erhair.

Hahaha panjang ya ceritanya bisa sampai pakai produk ini.

Aku sebenarnya baru pakai Erhair Scalp Care Shampoo ini sekitar 5x ketika post ini ditulis dan menurutku masih kurang lama untuk bisa buat review. Tapi karena aku sukaaaaa sekali sama hasilnya, jadinya aku tulis sekarang dan akan aku update nanti kalau-kalau ternyata aku jadi nggak suka lagi sama produk ini.

[deskripsi depan]

Jadi, Erhair Scalp Care Shampoo ini ditujukan untuk orang-orang yang mengalami masalah di kulit kepala dan ketombe. Shampoo ini juga bisa mengatasi masalah Dermatitis Seboroik. Apa itu? Menurut artikel di www.alodokter.com, "Dermatitis Seboroik adalah penyakit kulit yang biasanya menjangkiti kulit kepala dan area tubuh yang berminyak, seperti punggung, wajah, serta dada bagian atas. Pada kulit kepala, penyakit ini menyebabkan kulit berwarna merah, berketombe, dan bersisik". Nah, pas banget sama masalah di kulit kepalaku yang cepet berminyak dan berketombe.


Shampoo ini mengandung Climbazole dan Piroctone Olamine untuk mengatasi ketombe, serta Aloe Vera fan Pro-vitamin B5 untuk memberikan efek segar di kulit kepala.


First impressions: baunya nggak sukaaa! Kurang seger menurutku. Agak mirip bau shampoo di hotel-hotel (maklum anaknya biasa pake shampoo yang mure). Untuk busa sih banyak ya nggak susah juga dibuat foammy. Tapi pas aku pakai, kok nggak terasa dingin-dingin gitu ya? Padahal katanya ada "cool sensation". Mungkin kulit kepalaku udah kebal karena kemarin pakai shampoo Innisfree yang super dingin. Oh iya, shampoo ini juga harus didiamkan selama 1 menit sebelum dibilas.

Ya, impression pas keramas sih biasa aja, tapi setelah beberapa kali pakai, rambutku jadi lebih lembap dan 'bouncy' banget. Rambutku juga bentuknya lebih nurut dan lurus. Suka banget-banget!! Tapi, bukan berarti rambutku jadi sebagus Raline Syah ya haha, setidaknya untuk ukuran shampoo anti ketombe, Erhair Scalp Care Shampoo ini nggak bikin rambutku super kering. Padahal biasanya shampoo anti ketombe yang harus didiamkan sebelum dibilas seperti shampoo Selsun, efeknya bikin rambutku super kering kayak ijuk. Cuma karena mikir yang penting ketombe hilang, aku cuek aja sama efek keringnya dan sekarang menemukan shampoo Erhair yang nggak bikin kering ini udah kayak keajaiban~~~~~~ *lebay*

Soal ketahanan sampai rambut kembali butuh dikeramasi, aku biasanya 2-3 hari. Jadi hari Senin keramas, Rabu aku udah harus keramas lagi. Atau maksimal Kamis udah harus banget keramas. Sejauh ini kalau jeda keramas cuma 2 hari sekali, kulit kepala nggak terlalu terasa gatal. Melihat udara Jakarta yang lagi hot-hot-nya, wajar sih kalau harus keramas 2 hari sekali.

Oke, sebelum postingan kali ini semakin panjang, aku mau sudahi dulu. Intinya aku suka banget sama Erhair Scalp Care Shampoo dan rekomendasiin jika kamu punya masalah kulit kepala yang gatal dan susah cari shampoo yang cocok di supermarket. Untuk harga sendiri Erhair Scalp Care Shampoo ini nggak terlalu mahal. Cuma ukurannya memang sedikit kecil cuma 100 ml. Kalau nggak salah ada ukurannya besarnya juga cuma aku lupa berapa ml.